PPB – Memasuki hari kedua pelaksanaan Dauroh Tadribiyah yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Bahasa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bekerja sama dengan Muassasah Risalatus Salam, Selasa 4 Agustus 2026, peserta mendapatkan penguatan mengenai strategi pembelajaran nahwu bagi mahasiswa non-penutur asli bahasa Arab. Materi disampaikan oleh Prof. Dr. Tamer Saad Ibrahim yang memfokuskan pembahasan pada penyederhanaan konsep nahwu agar lebih mudah dipahami oleh pembelajar tingkat dasar.
Dalam pemaparannya, Prof. Tamer mengemukakan bahwa tantangan terbesar dalam pembelajaran bahasa Arab, khususnya nahwu, sesungguhnya bukan terletak pada kompleksitas ilmunya. Menurutnya, kesulitan sering kali muncul karena pendekatan pengajaran yang belum disesuaikan dengan karakteristik pembelajar pemula.
“Permasalahan bukan pada pembelajarannya, tetapi pada cara mengajarnya,” ungkapnya di hadapan peserta dauroh.
Berangkat dari pandangan tersebut, beliau memperkenalkan pendekatan pembelajaran nahwu yang lebih sederhana dan aplikatif melalui konsep “3 dan 5”. Pendekatan ini dirancang agar pembelajar memperoleh gambaran utuh mengenai struktur dasar bahasa Arab tanpa harus dibebani oleh banyak istilah gramatikal sejak awal pembelajaran.
Konsep tersebut menjelaskan bahwa susunan kalimat bahasa Arab pada dasarnya berakar pada tiga pola utama: jumlah ismiyah, jumlah fi’liyah, dan jumlah ismiyah maqlubah, yang kemudian dibangun oleh lima komponen pokok, yaitu mubtada’, khabar untuk jumlah ismiyah, dan fi’il, fa’il, dan maf’ul untuk jumlah fi’liyah. Kelima unsur tersebut dipandang sebagai fondasi utama yang perlu dikuasai oleh pembelajar sebelum mempelajari struktur yang lebih kompleks.
Adapun unsur-unsur gramatikal lainnya diperkenalkan sebagai fudhlah atau unsur pelengkap yang dapat dipelajari secara bertahap sesuai kebutuhan komunikasi dan perkembangan kemampuan peserta didik. Dengan pendekatan ini, proses pembelajaran menjadi lebih terstruktur, tidak membebani pembelajar pada tahap awal, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih bertahap dan bermakna.

Bagi para peserta, materi tersebut memberikan perspektif baru dalam mengajarkan nahwu. Selama ini, pembelajaran nahwu kerap dipersepsikan sebagai materi yang rumit karena sejak awal dipenuhi dengan berbagai kaidah dan istilah. Melalui penyederhanaan konsep yang ditawarkan, peserta memperoleh alternatif strategi pembelajaran yang lebih komunikatif, sistematis, dan berpusat pada kebutuhan pembelajar.
Diskusi yang berlangsung selama sesi pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi dari para peserta. Berbagai pertanyaan dan pengalaman mengajar dibahas bersama untuk melihat bagaimana konsep tersebut dapat diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas, khususnya bagi mahasiswa Indonesia sebagai pembelajar nonpenutur asli.
Melalui Dauroh Tadribiyah ini, Pusat Pengembangan Bahasa berharap para dosen tidak hanya memperoleh tambahan wawasan teoretis, tetapi juga mampu mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih sederhana, efektif, dan berorientasi pada keberhasilan peserta didik. Paradigma bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang sulit diharapkan dapat bergeser menjadi keyakinan bahwa bahasa Arab dapat dipelajari secara lebih mudah apabila diajarkan dengan strategi yang tepat. (makhi)





