Mamluatul Hasanah
Kepala Pusat Bahasa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Dunia pendidikan saat ini sering mengalami fenomena curriculum time lag, dimana kurikululum yang ditetapkan oleh sebuah institusi pendidikan bukan sesuatu yang dibutuhkan oleh para peserta didik di masa yang akan datang. Salah satu diantara penyebab terjadinya fenomena ini adalah akselerasi laju dunia industri yang terjadi dalam waktu sangat singkat, yang terkadang tidak diimbangi oleh inovasi di dunia pendidikan.
Gambaran laju ini misalnya, pergerakan evolusi dari Industry 4.0, 5.0, menuju Industry 6.0 mengalami pergeseran paradigmatik dari otomatisasi berbasis IoT dan big data ke integrasi human-centric, kolaborasi manusia–machine, keberlanjutan dan kemudian menuju ke industri masa depan yang berbasis hyper-connected, autonomous ecosystems, AI kolaboratif, dan keberlanjutan tingkat tinggi. Dunia pendidikan juga harus meresponnya dengan cepat agar fenomena curriculum time lag tidak terjadi, atau seandainya terjadi, cepat teratasi. Tulisan ini akan mencoba menawarkan 7-helix model dalam melakukan inovasipendidikan bahasa di level makro-meso, dan mikro.
7-helix model merupakan perluasan dari triple helix (industry–government–academia) dan quadruple/quintuple helix yang memasukkan masyarakat, budaya, serta lingkungan. Dalam model tujuh helik, inovasi pendidikan dipandang sebagai hasil interaksi antara tujuh domain utama yaitu pemerintah, industri, institusi pendidikan, masyarakat sipil, lingkungan, budaya, dan ekosistem digital. Ketika model ini diterapkan dalam pembelajaran bahasa, ide ecological approach ala Van liar perlu dipertimbangkan. Pembelajaran bahasa tidak hanya dianggap sebagai aktivitas pedagogis di kelas, tetapi sebagai bagian dari ekosistem inovasi yang luas dengan dampak sosial, budaya, dan teknologi.
Bagaimana 7 pilar yang dimaksud berinteraksi dalam melakukan inovasi pendidikan bahasa, dan apa peran masing-masing? Pemerintah yang ada di helik-1, berperan membuat regulasi, standar dan juga kebijakan bahasa. Industri yang ada di helik-2 berperan menetapkan kompetensi bahasa di dunia kerja yang akan menjadi acuan penyelenggara institusi pendidikan untuk menetapkan profil lulusannya. Institusi Pendidikan yang ada di helik-3 berperan mendesain kurikulum yang memenuhi standar regulasi pemerintah yang sekaligus bisa menjawab tantangan dunia industri. Masyarakat sipil yang berada di helik-4 penyedia utama praktik berbahasa yang membentuk ekosistem komunikasi auntentik yang menjadi rujukan utama dalam mendesain input pembelajaran. Lingkungan yang menjadi pilar helik-5 berperan untuk menjaga ekologi dan keberlanjutan bahasa sebagaimana tawaran kajian ekolinguistik. Helik-6 yaitu budaya adalah penjaga idenditas dan nilai parktik berbahasa. Setiap bahasa tentunya tidak boleh lepas dari budaya penutur komunitasnya. Sedagkankan helik-7 yakni ekosistem digital berperan bagaimana pembelajaran bahasa terjadi di ruang digital, bagaimana kolaborasi manusia dan AI dalam aktivitas linguistik, dan juga bagaimana literasi multimodal terkawal dengan baik.
Dengan demikian inovasi pendidikan yang meliatkan transformasi digital dan sosial tidak bisa dilihat sebagai sebuah fase linier, tapi sebagai interaksi multi-dimensional yang melibatkan domain manusia, teknologi, dan institusi pendidikan.





