MIU Login

Student Agency Menjadi Norma dalam Kurikulum Pendidikan Bahasa: Mungkin atau Harus?

Mamluatul Hasanah

Kepala Pusat Bahasa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Student Agency didefiniskan sebagai kapasitas untuk menetapkan tujuan, merefleksikan, dan bertindak secara bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan. Ini adalah tentang bertindak daripada hanya menerima tindakan; membentuk daripada dibentuk; dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab daripada menerima keputusan yang ditentukan oleh orang lain.” (OECD, 2019).

Ada katakunci yang diberikan OECD terkait dengan student agency yaitu pengembangan identitas dan rasa memiliki. Ketika mahasiswa mengembangkan agensi, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri, dan pola pikir berkembang (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi menuju kesejahteraan. Hal ini memungkinkan mereka untuk bertindak dengan tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang dan maju dalam masyarakat.

Mahasiswa menjadi agen dalam pembelajaran mereka dan mereka memainkan peran aktif dalam apa dan bagaimana mereka belajar, mereka tidak hanya menunjukkan motivasi yang lebih besar dan keinginan mengejar tujuan pembelajaran mereka, tetapi mereka juga menjadi lebih baik dalam “belajar bagaimana belajar”. Dalam dunia yang dipenuhi wicked problems global, seperti perubahan iklim dan meningkatnya ketimpangan, di mana tidak ada solusi yang telah ditentukan, kita membutuhkan para pemimpin yang bukan hanya memiliki pengetahuan untuk menangani masalah tersebut tetapi juga memiliki keterampilan “belajar bagaimana belajar”, yaitu kapasitas untuk menetapkan tujuan dalam situasi kompleks baru, merefleksikan secara kritis, dan bertindak secara bertanggung jawab untuk membantu mengarahkan dunia ke jalur yang benar.

Student agency berakar dari gagasan bahwa “siswa memiliki kemampuan dan kemauan untuk secara positif memengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka”

Agensi dapat diterapkan dalam hampir setiap konteks: moral, sosial, ekonomi, dan kreatif. Agensi moral membantu membuat keputusan yang mengakui hak dan kebutuhan orang lain. Agensi sosial melibatkan pemahaman tentang hak dan tanggungjawab terhadap lingkungan dan masyarakat dimana mereka tinggal. Agensi ekonomi melibatkan kemampuan untuk mendindentifikasi peluang berkontribusi di bidang ekonomi baik skala lokal, nasional, ataupun internasional. Konsep student agency berakar pada gagasan bahwa “siswa memiliki kemampuan dan kemauan untuk secara positif memengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.”

Bagaimana itu terwujud? Bisakah kita mulai menjadikan student agency ditetapkan dalam kurikulum pendidika bahasa? Mungkin kita bisa memulai dengan menetapkan profil lulusan yang menekankan pada kemampuan mengambil keputusan, refleksi diri, kolaborasi, dan juga kepemimpinan. Filosofi pembelajaran juga diarahkan pada kemandiirian belajar dan kreativitas berbahasa. Misalnya, “Mahasiswa mampu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi pembelajarannya sendiri serta menggunakan kemampuan berbahasa untuk memengaruhi dan berkontribusi dalam konteks sosial-budaya”. Dengan rumusan seperti ini, pada domain psikomotorik sosial, bisa ditambahkan aspek co-agency seperti berkolaborasi dalam proyek berbahasis keampuan berbahasa, berpartisipasi dalam mengambil keputusan terkait proses pembelajaran dan sebagainya.

Student Agency juga bisa diterapkan melalui pedagogical moves yang memungkinkan mahasiswa menjadi aktor utama. Strategi seperti Voice (memberi ruang suara mahasiswa), Choice (Memberikan pilihan pada mahasiswa), juga Ownership (kepemilikan terhadap proses belajar). Sebagai pendidik dan praktisi pendidikan bahasa, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menyediakan konteks di mana student agency dapat menjadi norma.

发表回复

您的邮箱地址不会被公开。 必填项已用 * 标注

Berita Terkait